WANI PIRO

Tahukah kamu bahwa ada tips untuk sukses berjualan di Surabaya. Mau tahu ? Simak baik-baik. Hafalkan 3W 1M. Apa itu ? WUENAK , WUAREG, WUAPIK, MURAH. Artinya kalau kamu bisa menyediakan produk yang enak, membuat kenyang, dan bagus kemasannya serta harganya murah, maka dijamin produkmu itu akan laris manis di Surabaya. Nah, pertanyaannya sekarang, bisa gak kamu membuat produk seperti itu? Jawabannya tentu saja , SUSAH POL.

Ketika pertama kalinya seorang teman mulai merintis usaha penjualan baju muslim, hal tersulit yang di hadapi saat itu adalah menentukan harga jual. Di satu  sisi, tentu saja ia mengharapkan untuk mendapatkan keuntungan yang lumayan dari penjualan produknya, tapi di sisi lain ada juga kekuatiran tentang laku tidaknya produk itu nanti dengan settingan harga seperti ini. Seiring dengan perjalanan waktu (hanya beberapa bulan kok belum sampai tahunan – Lol), sedikit demi sedikit ia semakin memahami bagaimana untuk mensetting harga produk. Hatinya yang dulunya bernyali kecil, sekarang semakin matang dan percaya diri untuk menentukan harga jual produk. Tentu saja hal ini di dorong oleh semakin dikenalnya nama usahanya dan dukungan dari para pelanggan loyal.

Strategi untuk menentukan harga jual sebetulnya bisa dipelajari. Berpuluh-puluh tahun para pakar Marketing mempelajari perilaku pembelian manusia dan mereka telah berhasil mengembangkan formula yang bagus sebagai dasar penentuan harga jual. Kita ambil contoh misalnya , usaha nasi pecel madiun. Untuk membuat nasi pecel itu tentu saja memerlukan bahan-bahan tertentu seperti nasi, sayur, bumbu pecel, peyek, lauk pauk dan pengemasnya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli komponen-komponen tersebut disebut harga pokok produksi (HPP).  Katakanlah HPP nasi pecel adalah Rp 3000/bungkus. Maka dari sini bisa disimpulkan bahwa harga jual nasi pecel itu haruslah lebih besar dari tiga ribu rupiah. Penentuan harga jual seperti ini disebut “cost pricing strategy”.

Kita kembangkan sedikit skenario diatas, dan mari berandai-andai bahwa kita sanggup untuk membeli mobil Daihatsu Xenia dan memutuskan untuk menjual nasi pecel itu dengan mobil kita. Celakanya, di alun-alun kota tempat kita berjualan, ternyata juga ada mobil pick up dan Toyota Avanza yang menjual nasi pecel juga. Karena penasaran dengan mereka, maka kita mengutus pembeli “bayangan” yang bertugas untuk menyamar sebagai pembeli dengan misi untuk mendapatkan “harga jual tetangga sebelah” . Baru setelah kita bisa mengetahui harga jual tetangga sebelah itu, baru kita bisa menentukan harga jual kita. Tujuannya jelas, jangan sampai harga jual kita jauh lebih mahal dari tetangga sebelah dan calon pembeli kita akan lari ke mereka. Penentuan harga jual seperti ini disebut “Competitor pricing strategy”.

Seiring dengan perjalanan waktu, bisnis usaha pecel madiun ini semakin besar dan memiliki banyak pelanggan loyal. Sehingga mulai ada pemikiran untuk menambah service jual kita ke para pelanggan loyal dengan cara membuat sebuah kedai makan dengan menu utama nasi pecel madiun dan beberapa variasi makanan dan minuman alternatif lain. Kedai makan ini kita buat konsep duduk lesehan, dengan free wifi, iringan lagu terapi, ac dan sabun untuk cuci tangan. Lokasi nyaman dikelilingi dengan pohon-pohon yang rindang sehingga suasana sekitar terasa sejuk, ditambah luas lahan parkir yang cukup luas untuk para pengunjung. Penambahan service seperti ini semakin menambah percaya diri sehingga kita memutuskan untuk menaikkan harga jual nasi pecel menjadi 3x lipatnya. Meskipun para pesaing kita tetap memasang harga jual yang jauh dibawah harga kita, hal ini tidak menjadi masalah karena adanya service tambahan yang kita sediakan bagi para pelanggan dan variasi makanan dan minuman pendamping yang harganya relatif murah. Penentuan harga produk utama yang jauh lebih tinggi dari makanan alternatif lainnya seperti ini disebut “Value based pricing strategy”.

Jadi, sekarang kamu sudah paham kan dasar-dasar apa yang harus di gunakan ketika kamu akan menentukan harga jual dari produk kamu. Pertanyaannya sekarang, strategi mana yang kamu pilih dari 3 alternatif diatas. Semua itu sebetulnya kembali kepada karakter profile kamu sendiri. Apakah kamu tipe orang yang take high risk, medium risk atau low risk. Jika kamu memang optimis dan percaya diri, tentu akan mengambil strategi value based. Sebaliknya jika kamu tergolong orang yang suka main aman saja, tentu lebih memilih strategi cost based. Jadi apapun pilihanmu, pertimbangkan dengan baik dan matang.

Advertisements